Jumat, 16 Agustus 2013

Apa sih Nasyid itu?

Nasyid adalah Lagu Religi khususnya lagu-lagu islami (lagu religi nya orang-orang muslim) atau lagu islam gitu deh. Nasyid awal kemunculannya gw gak tau yang jelas kata murobbi/guru ngaji gw dulu sih (waktu masih ikutan Rohis di SMA) nasyid ntu awal nya adalah nyanyian kayak semodel sholawat gitu waktu Nabi Muhammad S.A.W menang dalam perang badar "Sholawat Badar", sebagai bukti kesyukuran gt lah atas kemenangan perang melawan orang-orang kafir yang mencoba mengusik Islam (perlu dicatat!, dalam islam tu gak ada perang kecuali diganggu duluan).

Team nasyid pertama ada di malaysia , yang gw tau sih The Zikr namanya trus pecah jadi team nasyid Raihan, Nada Murni dll. Tentu tau kan Si Nazrey Johani ? sang vokal di Raihan Team? nih lagu nya :
Harapanku PadaMu subur kembali 
Gimana? bagus kagak? kalo mau denger2 yang laen silahkan disini :
Wahai Kekasih
Antara 2 Cinta




Sumber : http://safarinew-nasyid.blogspot.com/2010/06/nasyid-itu-apa-sih.html

ADAB PERGAULAN IKHWAN AKHWAT

Akhir-akhir ini terkadang dalam pergaulan antara akhwat dan ikhwan mulai terjadi pelanggaran-pelanggaran batas-batas pergaulan. Misalnya seorang ikhwan yang berbicara sangat dekat dengan seorang akhwat, seorang ikhwan dan ahwat saling sms yang tidak penting untuk kemajuan dakwah atau dua aktivis rohis yang belainan jenis kelamin sering berjalan berduaan sehingga tampak seperti orang pacaran dan bahkan ada yang mengira mereka pasangan suami istri. Hal ini tentu meresahkan kerena selain dapat merusak kinerja dakwah bahkan dapat timbul fitnah seperti di atas. Karena seorang ikhwan ataupun akhwat merupakan pioner dakwah Islam, sebuah kerugian/dan kecelakaan manakala seorang pioner dakwah yang seharusnya menjadi panutan bagi teman-temannya yang ingin mempelajari Islam justru terjebak ke dalam Virus Merah Jambu (VMJ), atau Cinta Bersambung Sesama Aktivis (CBSA).
        Pelanggaran batas-batas pergaulan ini biasanya disebabkan karena hal-hal di bawah ini:
  1. Belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan akhwat
  2. Sudah mengetahui namun belum memahami
  3. Sudah mengetahui nemun tidak mau mengamalkan
  4. Sudah mengetahui dan memahami namun tergelincir karena lalai.
Dan bisa jadi kejadian itu disebabkan karena kita masih sibuk menghiasi penampilan dengan jilbab lebar warna-warni atau dengan janggut dan celana yang mengatung, namun kita lupa menghias akhlak. Kita sibuk berhiaskan simbol-simbol islam namun lupa substansi islam. Kita berkutat mengahafal materi islam namun tidak fokus pada tataran pemahaman dan amal.
Sesungguhnya panggilan ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ adalah penggilan persaudaraan yang artinya saudara laki-laki dan saudara perempuan. Namun di ruang lingkup aktivis rohis, panggilan itu biasanya ditujukan untuk orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya, yang islamnya shahih, syamil, lurus fikrahnya dan akhlaknya baik. Atau bisa dikonotasikan dengan jamaah. Maka tidak heran bila terkadang dipertanyakan ke-’ikhwanan’-nya atau ke-’akhwatan’-nya bila belum bisa menjaga batas-batas pergaulan (hijab) ikhwan akhwat.
Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan begitulah sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat seseorang dapat istiqomah menjaga batas-batas ini.
Berikut ini adalah contoh-contoh pelangaran yang masih sering terjadi yang dikhawatirkan dapat memicu timbulnya virus merah jambu sehingga meningkat sampai tahap pacaran:
  1. Pulang berdua, contoh usai rapat rohis karena pulang ke arah yang sama maka akhwat pulang bersama ikhwan berdua saja.
  2. Rapat berhadap-hadapan, hal seperti ini sangatlah cair dan rentan timbulnya ikhtilath (pencampuradukan ikhwan akhwat)
  3. Tidak menundukkan pandangan, karena bisa saja dapat menimbulkan zina mata. Bukankah ada ungkapan dari mata turun ke hati?
  4. Duduk/jalan berduaan, hal ini dapat menimbulkan fitnah dari orang lain sekalipun sebenarnya alas an berduaan karena berdiskusi namun tetap saja tampak seperti orang pacaran.
  5.  “men-tek” untuk menikah, ada pula ikhwan yang belum lulus kuliah men-tek seorang akhwat untuk menikah dengan alasan takut keburu diambil (dikhitbah/dinikahi) orang lain padahal tak jelas juga kapan menikahnya.
  6. Menelepon yang tidak penting, menelepon dan mengobrol tak tentu arah padahal tidak ada nilai urgensinya atau tidak ada hubungnnya dengan urusan dakwah.
  7. SMS tidak penting, saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan dakwah sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya
  8. Berbicara mendayu-dayu, contoh ucapan akhwat seperti “deuu si akhi antum bisa aza dehh…” dengan nada terdengar manja dan disertai dengan tertawa kecil.
  9. Bahasa yang terlalu akrab, misalnya seperti bahasa SMS yang terlalu akrab seperti “oke deh pak fulan, yang penting rapatnya lancar khan. Kalau gitchu ga usah ditunda lagi yach ok dech. CU ^_^”. Meskipun sudah beraktivitas bersama, ikhwan akhwat bukanlah pasangan suami isteri yang bisa mengakrabkan diri karena bahasa SMS seperti ini dapat menimbulkan bekas di hati pengirim dan penerima SMS.
  10. Curhat, curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian timbul permainan hati seperti virus merah jambu yang bisa mengganggu tribulasi dakwah.
  11. Chatting yang tidak urgent, chatting, dengan YM sto lewat facebook misalnya, boleh-boleh saja hanya saja bila pembicaraanya melebar dan menyimpang dari fokus dakwah, khalwat virtual bisa saja terjadi.
  12. Bercanda ikhwan akhwat, ikhwan akhwat bercanda berdua sambil tertawa-tawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan.
Lalu bagaimana adab pergaulan ikhwan akhwat yang seharusnya? Berikut ini adalah adab-adab pergaulan dengan lawan jenis yang bukan mahram (saudara sedarah):
  1. Harus menutup aurat yakni seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan untuk wanita dan dari pusar hingga lutut untuk pria. Hanya saja syarat-syarat penutup aurat untuk wanita yaitu kain tidak boleh tipis, tidak boleh tembus pandang, tidak boleh ketat, dan tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki. Dan yang paling penting kerudung harus bisa menutup dada.
  2. Menundukkan dan menjaga pandangan bila berpapasan dengan lawan jenis, bila berbicara juga harus menjaga pandangan. Namun tidak harus selalu menundukkan muka ke tanah ketika berjalan sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau dengan mata semu/samping.
  3. Ketika berbicara dengan lawan jenis harus yang tegas namun tidak dengan nada membentak dan tidak pula mendayu-dayu. Yang penting lawan bicara mengerti apa yang kita ucapkan.
  4. Tidak boleh berdua-duaan (khalwat). Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang bersama mahramnya, karena yang ketiga adalah syetan.”(Al Hadist). Berdua-duaan dengan lawan jenis sangat berbahaya karena yang ketiganya adalah syetan yang dapat menggoda untuk membuat ikhwan akhwat yang berdua-duaan melakukan hal yang mendekati zina. Bila berinteraksi alangkah baiknya lebih dari dua orang serta yang diperbincangkan tidak bersifat pribadi atau hal-hal lain seperti curhat.
  5. Berdialog baik dengan bicara langsung maupun via telepon atau SMS hanya yang penting-penting saja dan sebisa mungkin berhubungan dengan urusan dakwah serta tidak terlalu sering.
  6. Menggunakan hijab bila sedang rapat yang diikuti ikhwan dan akhwat. Selain untuk menjaga pandangan dan konsentrasi, juga menghindari ikhtilath. Bila belum mampu menggunakan hijab, dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat. Selain itu rapat juga tidak boleh diadakan sampai malam mengingat biasanya ada jam malam untuk akhwat.
Penutup :
Di dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Kewajiban berjilbab, menundukkan pendangan, tidak khalwat (berduaan), tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara (mendayu-dayu), dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semua adalah penjagaan tatanan kehidupan social muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaannya.
Kehormatan seorang muslim sangatlah penting dipelihara di dalam islam, sampai-sampai untuk mendekati zinanya saja sudah dilarang. Seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Al Isra 32 “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Pelanggaran-pelanggaran yang disebutkan di atas dapat dikategorikan kepada hal-hal yang mendekati zina karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan mengarah pada zina yang sesungguhnya, na’udzubillah.
Maka, bersama-sama kita saling menjaga pergaulan ikhwan akhwat. Agar tidak terjerumus ke dalam kategori yang mendekati zina.
Jagalah perhiasan terindah dengan tidak mengotori perbuatan yang melanggar syar’i.
Jagalah perhiasan terindah karena dialah yang kelak akan memperindah hidup antum.
Semoga bermanfaat . . . .  :-)
Sebuah artikel dari anggota Islam Under Attack (IUA)


Ikhwan Akhwat

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS. Al-Hujuraat [49]: 13).
Seorang kawan dekat yang aktivis dakwah di kampus bercerita tentang temannya yang mengaku belum pantas menjadi seorang ‘ikhwan’ karena belum memiliki ilmu agama yang cukup dan belum menjalankan ajaran agama dengan sempurna. Kawan saya bilang kalau dia ingin tertawa mendengar pengakuan temannya itu. Begitu juga saya. Ada juga kawan, seorang aktivis dakwah juga, yang menulis di sebuah blog bahwa dia merasa geli ketika mendengar teman-temannya sesama aktivis yang ngomong seperti ini: “dia itu rajin shalat tahajjud lho, padahal dia bukan ikhwan,” atau “dia itu meski bukan ikhwan, tapi pinter ngaji lho..”
Istilah ikhwan dan akhwat memang semakin populer saja sejak semangat dakwah di kampus-kampus, dari kampus yang besar sampai yang kecil, mengalami peningkatan yang amat pesat, terutama dalam sepuluh tahun terakhir ini. Entah bagaimana sejarah mulanya mereka yang aktivis dakwah harus menyebut dirinya ikhwan atau akhwat. Yang jelas, ternyata ada pergeseran makna kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam perjalanan penggunaannya.
Secara lughowi (bahasa) kata ‘ikhwan’ adalah bentuk jamak dari akhun, yangartinya saudara. Sedangkan akhwat adalah bentuk jamak dari ukhtun dengan arti yang sama. Saudara di sini bisa bermakna denotatif, yang berarti saudara kandung atau saudara se-pertalian darah, ataupun bermakna konotatif, yang berarti saudara dalam arti yang lebih luas. Misalnya saudara seiman, saudara seorganisasi, dst.
Barangkali, dari pemaknaan secara luas itulah mulanya istilah ikhwan dan akhwat (atau panggilan ‘akhi’ dan ‘ukhti’) dipakai di kalangan aktivis dakwah. Mungkin maksudnya adalah untuk mempertegas dan memperkuat pertalian saudara sesama muslim dan sesama aktivis. Allah SWT memang telah meniscayakan bahwa sesama mukmin adalah bersaudara (QS. Al-Hujuraat [49]: 10). Ikatan persaudaraan sesama muslim tentu akan sangat bermakna bagi seorang aktivis, apalagi ketika berada di lingkungan dan negara yang mayoritas warganya non-muslim. Tetapi, mengapa harus memakai istilah bahasa Arab dan apakah ada muatan ideologis di dalamnya ataukah hanya sekedar pilihan, tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Konon, para aktivis dakwah di negara-negara Barat saling memanggil koleganya dengan brother atau sister.Yang jelas, dengan mamakai bahasa apapun, jika pemaknaannya sebatas ‘saudara sesama muslim’ atau ‘sesama aktivis dakwah’, penggunaan panggilan ikhwan atau akhwat tidak menjadi masalah. Namun, ketika pemaknaannya bergeser lebih jauh, apalagi menyangkut prinsip dan akidah, tentu akan menjadi masalah.
Kembali kepada cerita kawan saya di atas. Berdasarkan pengakuan teman dari kawan saya itu, tampaknya memang ada pergeseran makna ikhwan dan akhwat di kalangan para aktivis. Menariknya lagi, sepertinya ada lebih dari satu pergeseran makna di sana; pertama, ikhwan dan akhwat (mulanya) adalah sebutan dan identitas untuk para aktivis dakwah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti bukan aktivis dakwah. Sampai di sini, istilah ikhwan dan akhwat hanyalah sebatas identitas atau atribut sosial yang mungkin tidak terlalu menimbulkan persoalan.
Kedua – dengan tetap melekatkan pemaknaan pertama – ikhwan dan akhwat adalah muslim yang baik, yang menjalankan ajaran agama dengan sebenar-benarnya, dan yang mendapat hidayah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti belum menjadi muslim yang baik. Pemaknaan ini adalah seperti yang dipahami oleh teman dari kawan saya di atas. Pemaknaan ini menjadi gawat jika tidak diklarifikasi, apalagi jika diikuti dengan atribut dan simbol-simbol tertentu. Misalnya, cara berpakaian, ikut jamaah tertentu, dst.
Perubahan Makna
Sebagai manusia, kita cenderung untuk menilai dan memaknai sesuatu dari apa yang tampak. Kita juga cenderung menilai sesuatu berdasarkan pola pemahaman semantik dan persepsi yang telah terbangun dalam kepala kita, yang kita yakini kebenarannya meskipun belum tentu benar (dalam psikologi kognitif ada istilah primary effect, hallo effect, fundamental attribution error dan confirmation bias untuk menjelaskan hal tersebut). Dengan mempelajari makna kata dan perubahannya, diharapkan bias-bias persepsi dan pemahaman bahasa bisa dihindari.
Dalam ilmu linguistik, makna sebuah kata bisa berubah dalam waktu yang relatif lama, terlebih kata serapan. Cabang linguistik yang mempelajari hal ini disebut semantik diakronis, yakni pengetahuan tentang makna kata serta perubahannya dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya perkembangan sosial-budaya, perkembangan pemakaian kata, pertukaran tanggapan indera, dan adanya asosiasi. Proses perubahan makna ikhwan dan akhwat di kalangan aktivis dakwah dapat dipahami dan dijelaskan dengan semantik diakronis ini.
Secara alami, perubahan makna kata memang pasti terjadi. Namun, kita sebenarnya bisa mengendalikan perubahan tersebut. Apalagi dalam komunitas masyarakat yang relatif kecil (komunitas gerakan dakwah, misalnya). Secara sederhana, misalnya, dengan menegaskan apa, mengapa dan bagaimana sebuah istilah digunakan.
Simbol dan Hakikat
Apa yang dapat kita pelajari dari bincang-bincang kita tentang pemakaian dan pemaknaan kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam tulisan ini? Bahwa bahasa, simbol, dan apapun yang tertangkap oleh indera, belum tentu menggambarkan hakikat yang sebenarnya dari apa dan siapa yang diekspresikan oleh bahasa atau simbol tersebut.
Simbol dan bahasa adalah apa yang tampak dan apa yang bisa ditangkap oleh indera, dan ia sangat terbatas. Sedangkan hakikat adalah apa yang ada dalam hati. Maka, untuk mengetahui hakikat seseorang, jangan hanya percaya pada simbol dan bahasa, akan tetapi kenalilah, selamilah lebih dalam apa dan siapa dibalik simbol dan bahasa tersebut. Itulah yang diajarkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW.
Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Abdullah bin Mas’ud ra. pernah diejek karena betisnya yang kecil (perhatikan kata ‘kecil’ dalam kalimat “betis yang kecil” yang mungkin dikonotasikan sebagai sesuatu yang jelek dan buruk). Sekonyong-konyong Rasulullah SAW. datang dan menegaskan bahwa kedua betis yang kurus itu di sisi Allah lebih berat daripada bukit Uhud. Bilal bin Rabah ra. adalah mantan budak yang berkulit hitam legam. Ia bahkan ragu-ragu untuk menyunting seorang perempuan. Akan tetapi, siapakah yang berani menyepelekannya? Ketika lamaran disampaikan, perempuan itu sampai menangis lantaran merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mendampingi seorang shalih sekaliber sang mantan budak.
Maka dari itu Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati kamu. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)
***
Penggunaan simbol, istilah, sebutan, label atau apapun untuk menegaskan identitas adalah hal yang lumrah dan sah. Namun jika simbol, istilah, sebutan, dan label itu kemudian digunakan untuk menentukan kadar hati dan iman seseorang, baik disengaja atau tidak, maka itu telah melampaui batas.
Akhirul kalam, saudara-saudara yang menggunakan istilah ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ , atau istilah apapun dari bahasa apapun, silahkan diteruskan. Apalagi kalau itu bisa memperkuat ikatan persaudaraan sesama, apalagi kalau itu menambah semangat Anda untuk berusaha menjadi muslim yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar Anda. Tapi harus diingat, sebelum menggunakan istilah tersebut, makna asli dan tujuan penggunaan istilah tersebut harus diketahui agar tidak terjadi pergeseran makna yang tidak benar.
Selanjutnya, mari kita kembalikan ukuran penilaian kita terhadap seseorang berdasarkan amaliah ibadah dan perilakunya sehari-hari, bukan pada aktif di organisasi apa orang itu, aktif di jamaah apa dia, orang mana dia, atau berasal dari suku apa. Tentu saja ukuran penilaian yang saya maksud di sini adalah sebatas ukuran baik dan tidak baik secara manusiawi, bukan sampai pada apakah orang itu termasuk golongan surga atau neraka, atau apakah orang itu bertakwa atau tidak. Karena hanya Allah Ta’ala semata Yang Tahu dan Yang Berhak.
Wallahu A’lam.





Minggu, 27 Januari 2013

entah ini apa --"


Tanggal 24 Januari udah berlalu empat hari yang lalu emang. Tapi gak ada salahnya inget- inget lagi hari itu.
Hari itu gue ama temen temen OSIS sibuk ngurus dan dekor panggung buat acara Maulid Nabi di GOR. Dekor dari jam 23.30-24.00 lanjut lagi 03.00 pagi bareng OSIS kelas X-nya. Berbekal selimut, sarung, tali pramuka gue jalan tanpa ide design panggungnya. Huaaah dingin banget pagi itu. Anak kela XI belom pada bangkit dari mimpi-mimpinya. Gue ama anak- anak laen bolak balik dorong gerobak buat ngambil batu bata buat bikin aer mancur. Anak kelas XI dateng ba’da solat subuh.
                Jam setengah 7-an gue balik kekamar siap-siap buat acara Maulid. Hah, gue semangat waktu itu. Tapi ada takut juga, acara OSIS kali ini gue bukan jadi panitia. Gue peserta. Gue ikut lomba debat antar angkatan. Haaaah!!! Kenapa gueee??? Gue gak mampu. Gue terlalu takut buat ngomong. Dan benar dengan apa yang terjadi, gue cuman bisa kasih kelompok gue ide buat debat tanpa ikut ngomong didalamnya, BODOH! >_< tapi berkat 2 temen gue yang jago ngomong kelompok gue masuk final.itu tambah bikin gue cemas *bukannyaseneng-_-“*. Dan ternyata jurinya bener-bener bikin gue panik, babak ini semuanya harus menyampaikan pendapat masing-masing. Gue kebagian ngomong terakhir, gue ragu. Gue diem, ikhwan akhwat mungkin pada heran liat gue. Akh! Dengen penuh keraguan gue ngomong, singkat tapi gak padet. Rasanya pas disuruh ngomong gue pengen kabur aja dari GOR. Umi!!!!!! Debat berakhir dan gue berjalan kearah temen-temen gue dengan rasa bersalah. Mereka ngibur gue, tapi gue yakin pasti terselip kekecewaan di hati mereka. Thanks banget buat FOUNDATION yang dah suport gue.
                Zuhur, guesolat terus makan. Barang-barang gue masih ada di GOR. Selimut dan lainlain. Gue balik kekamar dan ketiduran sampe- sampe gak balik ke GOR buat bantu-bantu beresin. Gue solat mepet Magrib. Sungguh ini musibah banget! Hari itu bener-bener huft....
Entah, apa maksudnya gue nulis ini. Curcol dikit lah. Gak nape kan?
Ohya, hari itu juga hari spesial buat temen gue yang ada di seberang pulau sana. Gue gak tau deh gimana kabarnya sekarang.
Gue sih berharapnya di harinya dia itu, dia kagak ngalamin hal sial macam gue. Semoga hari itu jadi moment paling menyenangkan buat #temenberantem gue. Yah, semoga tu bocah tambah dewasa, soleh, pinter, berprestasi, kaga suka ngelawan ortunya lagi, nambah deket sama bokapnya. Sehat selal dan  kece selalu. Haha J Barakallah buat yang Ulang Tahun tanggal 24 kemaren dah. Gue wish the best for you.

#temenribut
#temenberantem
#bayangan